Kisah Gitar Radix Yang Sukses Sampai Ke Eropa

Terkadang, untuk menggeluti dunia wirausaha kita harus paham dan menguasai bidang wirausaha tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Toein Bernadhie dengan bisnis alat musik gitar Radix miliknya.

Toein yang memang memiliki hobi di dunia musik, membeli gitar baru dengan harga Rp 8 juta. Menurutnya, harga itu termasuk mahal, dan hal tersebut membuatnya berpikir. Memang ide tercipta dari kegelisahan. Dalam kasus Toein, ia gelisah karena harga. Oleh sebab itu, Toein memiliki ide untuk membuat gitar sendiri dengan bantuan pengrajin gitar.

Namun, realita tak sesuai dengan mimpi. Harga gitar yang diidamkan justru melompat, menjadi Rp 20 juta. Nah, dari situlah Toein berinisiatif untuk mencoba membuat gitar dengan tangannya sendiri.

Pada tahun 2003, Toein berhasil membuat merk dagang, dengan gitarnya yang bermerk Marlique. Ketika itu, gitaris Ridho Slank lah yang diajak bekerjasama sekaligus mempromosikan gitar Marlique. Dalam sebulan, mereka berdua mampu memproduksi 200 gitar Marlique. Sayangnya, pata tahun 2008, kerjasama mereka berakhir, dan merk Marlique pun harus tiada.

sejarah gitar radix dan marlique
Dalam bisnis wirausaha, kita tidak boleh menyerah dan tidak pernah mengenal kata berhenti. Maka dari itu, Toein memberanikan diri untuk membuat merk dagangnya sendiri, tanpa bantuan dari siapa-siapa. Maka, terciptalah merk gitar Radix.

Mengawali karir dengan tabungan pengalaman dari gitar Marlique, Toein mencoba untuk mempromosikan gitar Radix dengan cara yang lebih baik. Beberapa gitaris ternama Indonesia diajak untuk bekerjasama dengan cara endorsement. Gitaris seperti Sony JRocks, Farri Ikhsan The SIGIT, Iwan St Loco, Edwin Cokelat, Rama Nidji, Buluk Superglad, Eet Sjahranie Edane, bahkan musisi mancanegara seperti Bluey Incognito pun memakai gitar Radix setiap kali mereka manggung.

sejarah gitar radix dan marlique
Dengan strategi pemasaran yang unik inilah yang membuat merk Radix dilirik oleh beberapa toko musik di Eropa. Kemudian berbagai pesanan datang dari Finlandia, Swedia, dan beberapa negara di Asia. Namun, pesanan trsebut tidak rutin, yang membuat harga tidak terkontrol.

Namun, pada tahun 2012, distributor Belanda mengajak Toein untuk bekerjasama. Toein tidak menolak kesempatan tersebut. Akhirnya popularitas gitar Radix semakin terdengar di mancanegara.

Saat ini, Toein dapat memproduksi 120 gitar Radix per bulan. Lalu, 50% dari produksi dipasarkan ke Eropa. Lantas, berapa omzet yang didapat? Mencapai Rp 250 juta per bulan.

Apakah Toein berpuas diri? Tidak. Kini Toein sedang mencoba untuk melebarkan pasar dengan cara memproduksi gitar akustik, bekerjasama dengan pengrajin gitar di Solo.

Inilah mengapa wirausaha akan berjalan lancar jika didasari dengan pemahaman dan penguasaan akan merk dagang itu sendiri.

Semoga kisah Toein dengan gitar Radix dapat memotivasi Anda. Silakan berkomentar.

This post has already been read 32525 times!

Let's Share...Share on FacebookShare on Google+Email this to someoneShare on TumblrTweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *